JANGAN BUAT VIRUS!!!
Membuat virus, bagi kebanyakan orang yang memang mampu, dapat memberikan kesenangan tersendiri, mungkin merupakan ‘kenikmatan hidup’ bagi mereka yang pada dasarnya memang suka usil. Tentu ada banyak alasan yang mendorong mereka tertarik membuat virus. Tetapi bagaimanapun juga, virus akan selalu dibenci oleh kebanyakan korbannya, meskipun virus itu tidak menimbulkan kerusakan file atau sistem, dan hanya memperlambat komputer.
Barangkali faktor utama yang mendorong orang suka membuat virus adalah rasa ingin populer, rasa bangga karena tidak banyak yang mampu membuat virus dan rasa ingin berbuat usil, bukan motivasi karena ingin mendapat imbalan materi. Tetapi virus dapat menimbulkan kerugian waktu, pikiran dan materi bagi korbannya. Tentu sangat jarang, kalo tidak boleh dibilang tidak ada, orang yang kemudian seneng karena komputernya kena virus, dan yang bisa dilakukan paling hanya berdoa agar pembuat virus ketiban sial. Jadi, bagaimanapun juga, virus tidak akan menguntungkan siapapun (kecuali bagi pembuat virus).
Bagi yang suka buat virus, jangan mentang-mentang bisa buat program, jangan mentang-mentang pinter (meskipun kenyataannya strategi virus lokal masih amatiran, dan paling yang buat juga nggak pinter-pinter banget). Masih banyak program lain yang bisa dibuat, yang ada manfaat positifnya; masih banyak program lain yang justru dapat menghasilkan uang; masih banyak program lain yang juga bisa menjadikan pembuatnya populer; meskipun cara membuatnya mungkin lebih sulit dibandingkan cara-cara membuat virus. Apa kemampuan kalian hanya sebatas membuat virus? Atau barangkali tidak bisa buat program, tapi maunya dikenal orang dengan membuat virus, meskipun bukan buatan sendiri? Apa kalian tidak mampu membuat program-program yang bermanfaat, sehingga membuat virus untuk memperoleh predikat keren, jago dsb?
Saya menulis ini semua bukan karena ingin memaki-maki atau menjelek-jelekkan siapapun juga. Jika ada yang tersinggung, saya mohon maaf. Saya hanya ingin mengajak semua agar tidak menggunakan programming skill-nya untuk hal-hal yang merugikan orang lain. Lebih dari itu, saya ingin agar perkembangan teknologi di Indonesia, khususnya di bidang komputer, tidak disalahgunakan. Saya tidak ingin jatuh ‘korban’ lebih banyak akibat virus. Banyak sekali di lingkungan kita yang tidak banyak tahu tentang komputer, dan mengalami kerugian yang barangkali tidak dapat diberi ganti-rugi oleh pembuat virusnya sendiri. Sudah banyak korban yang menangis karena data yang disusun dalam beberapa bulan hilang dalam sekejap karena komputer hang/error, atau rusak komputernya dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Ilmu pengetahuan seperti halnya pisau, ia dikembangkan bukan untuk mencelakai orang, tetapi untuk memudahkan dan membantu orang banyak. Demikian juga Einstein, mengembangkan teori atom, bukan untuk meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki, tetapi untuk kesejahteraan manusia. Dalam ilmu pengetahuan terkandung maksud-maksud yang luhur, tetapi sebagian orang menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Pesan moral ini saya sampaikan bukan karena saya ingin populer, bukan karena saya pengusaha yang sering dirugikan oleh virus, juga bukan karena saya tidak bisa membuat virus. Saya juga programmer yang pernah merasakan betapa sulitnya mempelajari bahasa pemrograman secara otodidak. Saya pernah mendalami pemrograman under DOS yang lebih susah dikuasai dibandingkan bahasa pemrograman under Windows. Saya juga menguasai bahasa Assembler. Jika saya mau, saya bisa buat virus yang jauh lebih berbahaya dari virus brontok, yang lebih mudah menular tanpa disadari pemakai komputer karena kecepatan komputer yang tertular hampir tidak berkurang. Bahkan saya pernah membuat sistem operasi sederhana seperti DOS menggunakan bahasa pemrograman yang mungkin paling sulit di dunia, yaitu bahasa assembler, yang tentu saja jauh lebih susah dibandingkan membuat virus. Saya juga merasakan godaan membuat virus, tetapi saya tidak melakukannya tanpa alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bagi saya, membuat virus sama saja dengan menanam dosa, menanam karma, dan tidak akan berbuah kebaikan. Setiap perbuatan akan ada balasannya.
Saya akui saya pernah buat virus. Tetapi virus yang saya buat waktu itu hanya untuk mengganggu salah satu dosen saya, yang kebetulan tidak disukai oleh semua mahasiswa satu angkatan/jurusan dengan saya waktu itu. Mudah-mudahan ini semua ada manfaatnya, khususnya bagi programmer dan masyarakat Indonesia. Bravo programmer Indonesia!
artikel lain lihat di www.kecrut.tripod.com, www.kecrut.blogspot.com
jogja, 06 april 2006, 04:25
Barangkali faktor utama yang mendorong orang suka membuat virus adalah rasa ingin populer, rasa bangga karena tidak banyak yang mampu membuat virus dan rasa ingin berbuat usil, bukan motivasi karena ingin mendapat imbalan materi. Tetapi virus dapat menimbulkan kerugian waktu, pikiran dan materi bagi korbannya. Tentu sangat jarang, kalo tidak boleh dibilang tidak ada, orang yang kemudian seneng karena komputernya kena virus, dan yang bisa dilakukan paling hanya berdoa agar pembuat virus ketiban sial. Jadi, bagaimanapun juga, virus tidak akan menguntungkan siapapun (kecuali bagi pembuat virus).
Bagi yang suka buat virus, jangan mentang-mentang bisa buat program, jangan mentang-mentang pinter (meskipun kenyataannya strategi virus lokal masih amatiran, dan paling yang buat juga nggak pinter-pinter banget). Masih banyak program lain yang bisa dibuat, yang ada manfaat positifnya; masih banyak program lain yang justru dapat menghasilkan uang; masih banyak program lain yang juga bisa menjadikan pembuatnya populer; meskipun cara membuatnya mungkin lebih sulit dibandingkan cara-cara membuat virus. Apa kemampuan kalian hanya sebatas membuat virus? Atau barangkali tidak bisa buat program, tapi maunya dikenal orang dengan membuat virus, meskipun bukan buatan sendiri? Apa kalian tidak mampu membuat program-program yang bermanfaat, sehingga membuat virus untuk memperoleh predikat keren, jago dsb?
Saya menulis ini semua bukan karena ingin memaki-maki atau menjelek-jelekkan siapapun juga. Jika ada yang tersinggung, saya mohon maaf. Saya hanya ingin mengajak semua agar tidak menggunakan programming skill-nya untuk hal-hal yang merugikan orang lain. Lebih dari itu, saya ingin agar perkembangan teknologi di Indonesia, khususnya di bidang komputer, tidak disalahgunakan. Saya tidak ingin jatuh ‘korban’ lebih banyak akibat virus. Banyak sekali di lingkungan kita yang tidak banyak tahu tentang komputer, dan mengalami kerugian yang barangkali tidak dapat diberi ganti-rugi oleh pembuat virusnya sendiri. Sudah banyak korban yang menangis karena data yang disusun dalam beberapa bulan hilang dalam sekejap karena komputer hang/error, atau rusak komputernya dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Ilmu pengetahuan seperti halnya pisau, ia dikembangkan bukan untuk mencelakai orang, tetapi untuk memudahkan dan membantu orang banyak. Demikian juga Einstein, mengembangkan teori atom, bukan untuk meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki, tetapi untuk kesejahteraan manusia. Dalam ilmu pengetahuan terkandung maksud-maksud yang luhur, tetapi sebagian orang menyalahgunakannya untuk kepentingan pribadi atau kelompok.
Pesan moral ini saya sampaikan bukan karena saya ingin populer, bukan karena saya pengusaha yang sering dirugikan oleh virus, juga bukan karena saya tidak bisa membuat virus. Saya juga programmer yang pernah merasakan betapa sulitnya mempelajari bahasa pemrograman secara otodidak. Saya pernah mendalami pemrograman under DOS yang lebih susah dikuasai dibandingkan bahasa pemrograman under Windows. Saya juga menguasai bahasa Assembler. Jika saya mau, saya bisa buat virus yang jauh lebih berbahaya dari virus brontok, yang lebih mudah menular tanpa disadari pemakai komputer karena kecepatan komputer yang tertular hampir tidak berkurang. Bahkan saya pernah membuat sistem operasi sederhana seperti DOS menggunakan bahasa pemrograman yang mungkin paling sulit di dunia, yaitu bahasa assembler, yang tentu saja jauh lebih susah dibandingkan membuat virus. Saya juga merasakan godaan membuat virus, tetapi saya tidak melakukannya tanpa alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bagi saya, membuat virus sama saja dengan menanam dosa, menanam karma, dan tidak akan berbuah kebaikan. Setiap perbuatan akan ada balasannya.
Saya akui saya pernah buat virus. Tetapi virus yang saya buat waktu itu hanya untuk mengganggu salah satu dosen saya, yang kebetulan tidak disukai oleh semua mahasiswa satu angkatan/jurusan dengan saya waktu itu. Mudah-mudahan ini semua ada manfaatnya, khususnya bagi programmer dan masyarakat Indonesia. Bravo programmer Indonesia!
artikel lain lihat di www.kecrut.tripod.com, www.kecrut.blogspot.com
jogja, 06 april 2006, 04:25